Kegiatan Pondok Ramadhan di SMP Negeri 1 Mojo dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 17-20 Maret 2025, dengan melibatkan seluruh jenjang kelas. Pada hari pertama Senin, 17 Maret 2025, siswa kelas VII yang mengikuti kegiatan tersebut dengan fokus utama pada tata cara thoharoh jika anggota tubuh diperban. Hari kedua akan diikuti oleh siswa kelas VIII, sementara hari ketiga akan diikuti oleh siswa kelas IX.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan pondok Ramadhan kelas VII dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berlangsung pukul 07.30 hingga 09.00, sedangkan sesi kedua dimulai pukul 10.00 hingga 11.30. Pembelajaran dipandu langsung oleh para guru yang telah ditunjuk sebagai pemateri. Pada kegiatan ini, terdapat enam guru yang bertugas memberikan materi kepada siswa kelas VII. Pembagian tugas guru pemateri adalah sebagai berikut:
• Bapak Moh. Zainushohihuddin, S.Pd., mengajar siswa kelas VIIA dan VIIH.
• Bapak Didik Arif Mahmudi, S.Ag., mengajar siswa kelas VII B dan VII J.
• Bapak Ana Usuludin, S.Ag., mengajar siswa kelas VII E dan VII G.
• Ibu Iffana Kholida, S.Pd., mengajar siswa kelas VII C dan VII K.
• Ibu Indana Zulfa, S.Pd., mengajar siswa kelas VII F dan VII I.
• Ibu Arina Rosyada, S.Pd., mengajar siswa kelas VII D.
Kegiatan Pondok Ramadhan ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman siswa mengenai ibadah di bulan suci Ramadhan, khususnya dalam hal tata cara thoharoh yang benar ketika mengalami kondisi tertentu, seperti adanya perban pada anggota tubuh. Dengan adanya praktik langsung, diharapkan siswa dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala SMPN 1 Mojo Bapak Juni Tjahjono, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan karakter Islami bagi siswa, “Melalui Pondok Ramadhan, kami ingin membentuk pribadi siswa yang lebih religius serta memahami dan mengamalkan nilai-nilai ibadah dengan baik dan benar,” ujar beliau.

Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari para siswa yang tampak bersemangat dalam mengikuti praktik thoharoh. Dengan bimbingan langsung dari para guru, siswa dapat memahami secara lebih mendalam pentingnya menjaga kesucian sebelum melaksanakan ibadah, terutama dalam kondisi tertentu seperti saat menggunakan perban.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan siswa tidak hanya memahami tata cara thoharoh secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *